Bangka Belitung Investigation.com — Ketegangan antara masyarakat penambang dengan aparat pengamanan tambang kembali memuncak. Seorang oknum yang diduga anggota Satgas Trisakti menjadi sasaran amuk massa setelah dituding datang dalam kondisi mabuk dan mencoba menghentikan serta menyita hasil pasir timah milik warga.
Insiden tersebut terjadi di tengah aktivitas penambangan rakyat dan langsung memicu keributan besar di lokasi. Warga yang sudah lama menyimpan kekecewaan terhadap tindakan sejumlah oknum akhirnya tidak mampu lagi menahan emosi.
Menurut keterangan sejumlah saksi di lapangan, oknum tersebut datang menggunakan mobil pribadi dan langsung menghampiri para penambang. Namun, sikapnya dinilai tidak wajar dan terkesan arogan.
“Dia datang pakai mobil, tapi kondisinya seperti orang mabuk. Bau minuman keras juga tercium. Ini bulan puasa, sikap seperti itu jelas tidak menghargai masyarakat,” ujar salah satu pekerja tambang yang berada di lokasi kejadian.
Situasi semakin memanas ketika terjadi adu mulut antara oknum tersebut dengan warga. Keributan pun tidak terhindarkan hingga akhirnya massa yang tersulut emosi melakukan pengeroyokan.
Warga yang berada di lokasi kemudian mengamankan oknum tersebut bersama barang bukti berupa botol minuman keras yang ditemukan di sekitar tempat kejadian. Botol tersebut bahkan diperlihatkan kepada warga lain sebagai bukti bahwa oknum tersebut diduga berada dalam pengaruh alkohol saat menjalankan tugas.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana tegang saat warga mengepung pria tersebut. Dalam video itu, oknum tersebut terdengar mencoba memberikan penjelasan dan membela diri di tengah kepungan massa.
“Kalau memang barangnya (timah atau zirkon) diberhentikan, saya balik kanan. Kenapa saya dipukulin?” ucapnya dengan nada panik di hadapan warga.
Namun penjelasan itu tidak mampu meredam kemarahan masyarakat. Bagi warga, kejadian tersebut bukan sekadar persoalan sesaat, melainkan puncak dari akumulasi kekecewaan yang selama ini dipendam para penambang kecil di Bangka Belitung.
Selama ini, keluhan mengenai tindakan sepihak sejumlah oknum yang mengatasnamakan pengamanan tambang kerap beredar dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat penambang.
Mereka menuding adanya praktik yang tidak adil dalam penertiban aktivitas tambang. Penambang kecil disebut-sebut sering menjadi sasaran penyitaan, sementara pihak-pihak bermodal besar diduga tetap leluasa beroperasi.
“Yang kecil selalu ditekan. Sering kali barang kami disita. Tapi kalau yang besar seperti tidak tersentuh. Ini yang membuat masyarakat marah,” kata seorang warga lainnya.
Kecurigaan masyarakat bahkan mengarah pada dugaan adanya praktik “main mata” antara oknum tertentu dengan pihak-pihak bermodal besar dalam aktivitas tambang. Hal ini semakin memperkuat rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh para penambang rakyat.
Bagi masyarakat Bangka Belitung yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor tambang rakyat, tindakan yang dianggap sewenang-wenang dari oknum aparat justru memperkeruh situasi dan memicu konflik di lapangan.
Peristiwa ini pun menjadi sorotan serius karena mencoreng upaya pengamanan aset strategis daerah, khususnya sektor pertambangan timah yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Bangka Belitung.
Masyarakat kini mendesak agar pimpinan Satgas Trisakti segera turun tangan untuk memberikan klarifikasi sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perilaku anggotanya di lapangan.
Warga juga meminta adanya penertiban yang adil dan transparan dalam pengawasan aktivitas tambang, tanpa adanya perlakuan tebang pilih yang selama ini menimbulkan kecurigaan dan konflik di tengah masyarakat.
“Kalau memang mau menertibkan, lakukan secara adil. Jangan hanya yang kecil saja yang ditekan,” tegas salah satu warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Satgas Trisakti maupun aparat berwenang terkait kejadian tersebut. Publik kini menunggu langkah tegas dari pihak terkait agar insiden serupa tidak kembali terulang di Bangka Belitung. (Red/Adm)


















